Senin, 01 November 2010

Tugas 1 : Gambaran Umum Manajemen.

1.1 Pengertian Manajemen
  •  Definisi Manajemen :
           Manajemen belum memiliki definisi yang mapan dan d iterima secara universal karena banyak ilmuan yang mendefinisikan dan memiliki pendapat yang berbeda-beda tentang manajemen.
Berdasarkan bahasa Prancis Kuno management memiliki arti sebagai seni melaksanakan dan mengatur.
Sedangkan menurut bahasa Italia (1561) maneggiare yang berarti “mengendalikan,” terutamanya “mengendalikan kuda”
Dari pengertian tersebut kata ini mendapat pengaruh dari bahasa Perancis yaitu manège yang berarti “kepemilikan kuda” dan yang berasal dari Bahasa Inggris yang berarti “seni mengendalikan kuda”, dimana istilah Inggris ini juga berasal dari bahasa Italia. Lalu bahasa Prancis mengadopsi kata ini dari bahasa Inggris menjadi ménagement, yang memiliki arti “seni melaksanakan dan mengatur”.
Sedangkan Mary Parker Follet, mendefinisikan manajemen sebagai seni menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain. Definisi ini berarti bahwa seorang manajer bertugas mengatur dan mengarahkan orang lain untuk mencapai tujuan organisasi, dan Ricky W. Griffin mendefinisikan manajemen sebagai sebuah proses perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran (goals) secara efektif dan efesien. Efektif berarti bahwa tujuan dapat dicapai sesuai dengan perencanaan, sementara efisien berarti bahwa tugas yang ada dilaksanakan secara benar, terorganisir, dan sesuai dengan jadwal.
Istilah manajemen, sendiri dalam bahasa Indonesia hingga saat ini belum ada keseragaman.

  •  Manajemen sebagai suatu seni (Art) dan sebagai suatu ilmu pengetahuan (Science) :
           Manajemen sebagai seni (Art) atau suatu ilmu pnegetahuan (Science). Mengenai inipun sesungguhnya belum ada keseragaman segolongan yang lain mengatakan bahwa manajemen adalah ilmu. Sesungguhnya kedua pendapat itu sama mengandung kebenarannya. Tetapi sebenarnya manajemen sebagai suatu ilmu atau Seni dapat dilihat bagaimana aktivitas manajemen di hubungkan dengan prinsip- prinsip dari manajemen tersebut. Seperti pendapat-pendapat para ahli yang mengatakan bahwa manajemen adalah seni atau ilmu, yaitu:
a) Henry Fayol, Koontz Cyril O’donnel, Alfin Brown Harold, GerQge K Terry,Chaster I Bernard dalam bukunya yang berjudul JTAe^Bnctíon of the Executive, bahwa manajemen yaitu seni dan ilmu.
b) Menurut G.R. Terry manajemen adalah suatu proses atau kerangka kerja, yang melibatkan bimbingan atau pengarahan suatu kelompok orang-orang kearah tujuan-tujuan organisasional atau maksud-maksud yang nyata. Manajemen juga adalah suatu ilmu pengetahuan maupun seni. Seni adalah suatu pengetahuan bagaimana mencapai hasil yang diinginkan atau dalm kata lain seni adalah kecakapan yang diperoleh dari pengalaman, pengamatan dan pelajaran serta kemampuan untuk menggunakan pengetahuan manajemen.
c) Menurut Mary Parker Follet manajemen adalah suatu seni untuk melaksanakan suatu pekerjaan melalui orang lain. Definisi dari mary ini mengandung perhatian pada kenyataan bahwa para manajer mencapai suatu tujuan organisasi dengan cara mengatur orang-orang lain untuk melaksanakan apa saja yang pelu dalam pekerjaan itu, bukan dengan cara melaksanakan pekerjaan itu oleh dirinya sendiri.

1.2 Manajemen Dan Manajer 
  • Tingkatan Manajemen (Manajemen Level) :
          Tingkatan manajemen dalam organisasi akan membagi tingkatan manajer menjadi 3 tingkatan yaitu:
a) Manajer Tingkat Puncak (Top Manager) terdiri dari kelompok yang relative kecil, manager puncak bertanggung jawab atas manajemen keseluruhan dari organisasi. Manajer adalah seseorang yang bekerja melalui orang lain dengan mengoordinasikan kegiatan-kegiatan mereka guna mencapai sasaran organisasi.
b) Manajer Tingkat Menengah (Middle Manager) adalah manajemen menengah dapat meliputi beberapa tingkatan dalam suatu organisasi. Para manajer menengah membawahi dan mengarahkan kegiatan-kegiatan para manajer.
c) Manajer tingkat Garis Pertama/ Supervisi (First line) adalah tingkatan manajemen paling rendah dalam suatu organisasi yang memimpin dan mengawasi tenaga-tenaga operasional. Dan mereka tidak membawahi manajer yang lain.
d) Manajemen Non Supervisi sebagai proses transaksi dan inquiry response.





















Gambar : 1.2

          Piramida jumlah karyawan pada organisasi dengan struktur tradisional, berdasarkan tingkatannya.
Pada organisasi berstruktur tradisional, manajer sering dikelompokan menjadi manajer puncak, manajer tingkat menengah, dan manajer line pertama (biasanya digambarkan dengan bentuk piramida, di mana jumlah karyawan lebih besar di bagian bawah daripada di puncak), seperti contoh gambar piramida di atas.

a) Manajemen puncak (top
management), dikenal pula dengan istilah executive officer. Bertugas merencanakan kegiatan dan strategi perusahaan secara umum dan mengarahkan jalannya perusahaan. Contoh top manajemen adalah CEO (Chief Executive Officer), CIO (Chief Information Officer), dan CFO (Chief Financial Officer).
b) Manajemen tingkat menengah (middle management), mencakup semua manajemen yang berada di antara manajer line pertama dan manajemen puncak dan bertugas sebagai penghubung antara keduanya. Jabatan yang termasuk manajer menengah di antaranya kepala bagian, pemimpin proyek, manajer pabrik, atau manajer divisi.
c) Manejemen line pertama (first-line management), dikenal pula dengan istilah manajemen operasional, merupakan manajemen tingkatan paling rendah yang bertugas memimpin dan mengawasi karyawan non-manajerial yang terlibat dalam proses produksi. Mereka sering disebut penyelia (supervisor), manajer shift, manajer area, manajer kantor, manajer departemen, atau mandor (foreman).
d) Manajemen non manajerial atau disebut sebagai non supervisi yaitu dimana tingkatan paling bawah, di bawah tingkatan first-line, dimana bertugas atau pekerja yang paling aktif dalam sebuah organisasi, seperti dalam proses transaksi dan inquiry response
Meskipun demikian, tidak semua organisasi dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan menggunakan bentuk piramida tradisional ini. Misalnya pada organisasi yang lebih fleksibel dan sederhana, dengan pekerjaan yang dilakukan oleh tim karyawan yang selalu berubah, berpindah dari satu proyek ke proyek lainnya sesuai dengan permintaan pekerjaan.

  • Fungsi-Fungsi Manajemen :
          Manajemen berfungsi sebagai elemen dasar yang selalu melekat dalam proses yang akan di jadikan acuan dalam melaksanakan kegiatan untuk mencapai tujuan.
Fungsi manajemen pertama kali di perkenalkan oleh seorang industrialis yaitu Henry Fayol dari Prancis, pada awal abad ke-20. Ia menyebutkan lima fungsi manajemen di antaranya adalah:
a) Perencanaan (Planning)
b) Pengorganisasian (Organizing)
c) Pengarahan (Actuating)
d) Pengendalian (Controlling)
e) Perintah (Command)

           Namun kelima fungsi tersebut telah di ringkas menjadi tiga yaitu :
a) Dalam rangka proses manajemen, Perencanaan (Planning) menempati posisi yang sangat menentukan, karena berkaitan dengan pengambilan keputusan terutama mengenai sasaran yang akan di capai dan perumusan kebijaksanaan dengan memperhatikan keadaan serta kesempatan dan hambatan yang di hadapi. Di lain pihak, pengendalian sebagai salah satu fungsi manajemen untuk melakukan penilaian dan koreksi atas pelaksanaan rencana yang telah di tetapkan sebelumnya.
b) Dilakukannya Pengorganisasian (Organizing) untuk membagi kegiatan besar menjadi kegiatan yang lebih kecil, juga untuk mempermudah dalam melakukan pengawasan.
c) Pengarahan (Directing) diperlukan untuk melakukan suatu tindakan agar setiap anggota kelompok berusaha mencapai sasaran sesuai dengan perencanaan.

Fungsi-Fungsi Manajemen tersebut diantaranya sebagai :
1. Planning
Berbagai batasan tentang planning dari yang sangat sederhana sampai dengan yang sangat rumit. Misalnya yang sederhana saja merumuskan bahwa perencanaan adalah penentuan serangkaian tindakan untuk mencapai suatu hasil yang diinginkan. Pembatasan yang terakhir merumuskan perencaan merupakan penetapan jawaban dari setiap pertanyaan sebuah rencana.
Menurut Stoner Planning adalah proses menetapkan sasaran dan tindakan yang perlu untuk mencapai sasaran tadi.
2. Organizing
Organizing (organisasi) adalah dua orang atau lebih yang bekerja sama dalam cara yang terstruktur untuk mencapai sasaran spesifik atau sejumlah sasaran.
3. Leading
Pekerjaan leading meliputi lima kegiatan yaitu :
• Mengambil keputusan
• Mengadakan komunikasi agar ada saling pengertian antara manajer dan bawahan
• Memberi semangat, inspirasi, dan dorongan kepada bawahan supaya mereka bertindak.
•Memeilih orang-orang yang menjadi anggota kelompoknya. •Memperbaiki pengetahuan dan sikap-sikap bawahan agar mereka terampil dalam usaha mencapai tujuan yang ditetapkan.
4. Directing/Commanding
Directing atau Commanding adalah fungsi manajemen yang berhubungan dengan usaha memberi bimbingan, saran, perintah-perintah atau instruksi kepada bawahan dalam melaksanakan tugas masing-masing, agar tugas dapat dilaksanakan dengan baik dan benar-benar tertuju pada tujuan yang telah ditetapkan semula.
5. Motivating
Motivating atau pemotivasian kegiatan merupakan salah satu fungsi manajemen berupa pemberian inspirasi, semangat dan dorongan kepada bawahan, agar bawahan melakukan kegiatan secara suka rela sesuai apa yang diinginkan oleh atasan.
6. Coordinating
Coordinating atau pengkoordinasian merupakan salah satu fungsi manajemen untuk melakukan berbagai kegiatan agar tidak terjadi kekacauan, percekcokan, kekosongan kegiatan, dengan jalan menghubungkan, menyatukan dan menyelaraskan pekerjaan bawahan sehingga terdapat kerja sama yang terarah dalam upaya mencapai tujuan organisasi.
7. Controlling
Controlling atau pengawasan, sering juga disebut pengendalian, adalah salah satu fungsi manajemen yang berupa mengadakan penilaian, bila perlu mengadakan koreksi sehingga apa yang dilakukan bawahan dapat diarahkan ke jalan yang benar dengan maksud dengan tujuan yang telah digariskan semula.
8. Reporting
Adalah salah satu fungsi manajemen berupa penyampaian perkembangan atau hasil kegiatan atau pemberian keterangan mengenai segala hal yang bertalian dengan tugas dan fungsi-fungsi kepada pejabat yang lebih tinggi.
9. Staffing
Staffing merupakan salah satu fungsi manajemen berupa penyusunan personalia pada suatu organisasi sejak dari merekrut tenaga kerja, pengembangannya sampai dengan usaha agar setiap tenaga memberi daya guna maksimal kepada organisasi.
10. Forecasting
Forecasting adalah meramalkan, memproyrksikan, atau mengadakan taksiran terhadap berbagai kemungkinan yang akan terjadi sebelum suatu rancana yang lebih pasti dapat dilakukan.
11. Tool of Management
Untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan diperlukan alat-alat sarana (tools). Tools merupakan syarat suatu usaha untuk mencapai hasil yang ditetapkan. Tools tersebut dikenal dengan 6M, yaitu men, money, materials, machines, method, dan markets.
- Man merujuk pada sumber daya manusia yang dimiliki oleh organisasi. Dalam manajemen, faktor manusia adalah yang paling menentukan. Manusia yang membuat tujuan dan manusia pula yang melakukan proses untuk mencapai tujuan. Tanpa ada manusia tidak ada proses kerja, sebab pada dasarnya manusia adalah makhluk kerja. Oleh karena itu, manajemen timbul karena adanya orang-orang yang berkerja sama untuk mencapai tujuan.
- Money atau Uang merupakan salah satu unsur yang tidak dapat diabaikan. Uang merupakan alat tukar dan alat pengukur nilai. Besar-kecilnya hasil kegiatan dapat diukur dari jumlah uang yang beredar dalam perusahaan. Oleh karena itu uang merupakan alat (tools) yang penting untuk mencapai tujuan karena segala sesuatu harus diperhitungkan secara rasional. Hal ini akan berhubungan dengan berapa uang yang harus disediakan untuk membiayai gaji tenaga kerja, alat-alat yang dibutuhkan dan harus dibeli serta berapa hasil yang akan dicapai dari suatu organisasi.
- Material terdiri dari bahan setengah jadi (raw material) dan bahan jadi. Dalam dunia usaha untuk mencapai hasil yang lebih baik, selain manusia yang ahli dalam bidangnya juga harus dapat menggunakan bahan/ materi-materi sebagai salah satu sarana. Sebab materi dan manusia tidaki dapat dipisahkan, tanpa materi tidak akan tercapai hasil yang dikehendaki.
- Machine atau Mesin digunakan untuk memberi kemudahan atau menghasilkan keuntungan yang lebih besar serta menciptakan efesiensi kerja.
- Metode adalah suatu tata cara kerja yang memperlancar jalannya pekerjaan manajer. Sebuah metode daat dinyatakan sebagai penetapan cara pelaksanaan kerja suatu tugas dengan memberikan berbagai pertimbangan-pertimbangan kepada sasaran, fasilitas-fasilitas yang tersedia dan penggunaan waktu, serta uang dan kegiatan usaha. Perlu diingat meskipun metode baik, sedangkan orang yang melaksanakannya tidak mengerti atau tidak mempunyai pengalaman maka hasilnya tidak akan memuaskan. Dengan demikian, peranan utama dalam manajemen tetap manusianya sendiri.
- Market atau pasar adalah tempat di mana organisasi menyebarluaskan (memasarkan) produknya. Memasarkan produk sudah barang tentu sangat penting, sebab bila barang yang diproduksi tidak laku, maka proses produksi barang akan berhenti. Artinya, proses kerja tidak akan berlangsung. Oleh sebab itu, penguasaan pasar dalam arti menyebarkan hasil produksi merupakan faktor menentukan dalam perusahaan. Agar pasar dapat dikuasai maka kualitas dan harga barang harus sesuai dengan selera konsumen dan daya beli (kemampuan) konsumen.

  • Keterampilan-Keterampilan Manajerial :
          Menurut Robert L. Katz pada tahun 1970-an mengemukakan bahwa setiap manajer membutuhkan minimal tiga keterampilan dasar. Ketiga keterampilan tersebut adalah :
1. Keterampilan konseptual (conceptional skill)
Manajer tingkat atas (top manager) harus memiliki keterampilan untuk membuat konsep, ide, dan gagasan demi kemajuan organisasinya. Gagasan atau ide serta konsep tersebut kemudian haruslah dijabarkan menjadi suatu rencana kegiatan untuk mewujudkan gagasan atau konsepnya itu. Proses penjabaran ide menjadi suatu rencana kerja yang kongkret itu biasanya disebut sebagai proses perencanaan atau planning. Oleh karena itu, keterampilan konsepsional juga meruipakan keterampilan untuk membuat rencana kerja.
2. Keterampilan berhubungan dengan orang lain (humanity skill)
Selain kemampuan konsepsional, manajer juga perlu dilengkapi dengan keterampilan berkomunikasi atau keterampilan berhubungan dengan orang lain, yang disebut juga keterampilan kemanusiaan. Komunikasi yang persuasif harus selalu diciptakan oleh manajer terhadap bawahan yang dipimpinnya. Dengan komunikasi yang persuasif, bersahabat, dan kebapakan akan membuat karyawan merasa dihargai dan kemudian mereka akan bersikap terbuka kepada atasan. Keterampilan berkomunikasi diperlukan, baik pada tingkatan manajemen atas, menengah, maupun bawah.
3. Keterampilan teknis (technical skill)
Keterampilan ini pada umumnya merupakan bekal bagi manajer pada tingkat yang lebih rendah. Keterampilan teknis ini merupakan kemampuan untuk menjalankan suatu pekerjaan tertentu, misalnya menggunakan program komputer, memperbaiki mesin, membuat kursi, akuntansi dan lain-lain.
           Selain tiga keterampilan dasar di atas, Ricky W. Griffin menambahkan dua keterampilan dasar yang perlu dimiliki manajer, yaitu :
1. Keterampilan manajemen waktu
Merupakan keterampilan yang merujuk pada kemampuan seorang manajer untuk menggunakan waktu yang dimilikinya secara bijaksana. Griffin mengajukan contoh kasus Lew Frankfort dari Coach. Pada tahun 2004, sebagai manajer, Frankfort digaji $2.000.000 per tahun. Jika diasumsikan bahwa ia bekerja selama 50 jam per minggu dengan waktu cuti 2 minggu, maka gaji Frankfort setiap jamnya adalah $800 per jam—sekitar $13 per menit. Dari sana dapat kita lihat bahwa setiap menit yang terbuang akan sangat merugikan perusahaan. Kebanyakan manajer, tentu saja, memiliki gaji yang jauh lebih kecil dari Frankfort. Namun demikian, waktu yang mereka miliki tetap merupakan aset berharga, dan menyianyiakannya berarti membuang-buang uang dan mengurangi produktivitas perusahaan.
2. Keterampilan membuat keputusan
Merupakan kemampuan untuk mendefinisikan masalah dan menentukan cara terbaik dalam memecahkannya. Kemampuan membuat keputusan adalah yang paling utama bagi seorang manajer, terutama bagi kelompok manajer atas (top manager). Griffin mengajukan tiga langkah dalam pembuatan keputusan. Pertama, seorang manajer harus mendefinisikan masalah dan mencari berbagai alternatif yang dapat diambil untuk menyelesaikannya. Kedua, manajer harus mengevaluasi setiap alternatif yang ada dan memilih sebuah alternatif yang dianggap paling baik. Dan terakhir, manajer harus mengimplementasikan alternatif yang telah ia pilih serta mengawasi dan mengevaluasinya agar tetap berada di jalur yang benar.

1.3 Evolusi Teori Manajemen























Gambar : 1.3.1

           Pembahasan dan pemahaman perkembangan teori-teori manajemen sangat di perlukan guna memberikan landasan dalam pemahaman perkembangan teori manajemen selanjutnya. Setiap pandangan dalam teori manajemen akan membantu manajer untuk membuat keputusan-keputusan yang lebih efektif pada berbagi masalah yang berbeda dalam organisasi yang terus mengalami perubahan. Tiga pandangan tentang manajemen dapat di kelompokkan berdasarkan pendekatan-pendekatan sebagai berikut :
  •  Teori Manajemen Klasik (The Classical Approaches) :
           Teori ini dikenal sebagai aliran manajemen ilmiah (scientific manajement) dan teori organisasi klasik atau prinsip-prinsip administratif (administrative principles) serta organisasi birokrasi (bureauctratic organization) yaitu pendekatan pada studi manajemen dengan prinsip-prinsip universal untuk berbagi situasi manajemen. Aliran klasik sendiri terdiri dari :
a) Manajemen Ilmiah
Tokoh utama aliran ini adalah Frederick Winslow Taylor yang menulis buku “Scientific Management”. Taylor memberikan prinsip-prinsip dasar penerapan pendekatan ilmiah pada manajemen dan mengembangkan teknik-teknik untuk mencapai efisiensi.
Prinsip dasar manajemen ilmiah, diantaranya :
1. Pengembangan metode-metode ilmiah dalam manajemen, agar metode yang paling baik untuk pelaksanaan setiap pekerjaan dapat ditentukan.
2. Seleksi ilmiah untuk karyawan, agar setiap karyawan dapat diberikan tanggung jawab atas suatu tugas sesuai dengan kemampuannya.
3. Pendidikan dan pengembangan ilmiah karyawan.
4. Kerjasama yang baik antara manajemen dan karyawan.
Teknik-teknik pencapaian efisiensi yang di kembangkan untuk melaksanakan perinsip-perinsip tersebut adalah studi gerak dan waktu, pengawasan fungsional, system upah perpotong differensial, kartu intruksi, pembelian dengan spesifikasi dan standarisasi pekerjaan, dan tenaga kerja.
b) Prinsip-Prinsip Administratif (Teori Organisasi Klasik)
Tokoh utamaa aliran ini adalah Henry Fayol, industrialis Prancis yang menulis buku “Administration Industriele et Generale”, mengumumkan lima unsure manajemen POACC (Fungsionalisme Fayoul).
Fayoul membagi perusahaan menjadi enam kegiatan yang saling bergantung yaitu :
1. Teknik, produksi dan manufacturing produk.
2. Komersial, pembelian bahan baku dan penjualan produk.
3. Keuangan, perolehan dan penggunaan modal.
4. Keamanan, melindungi para karyawan dan kekayaan perusahaan.
5. Akutansi, pelaporan dan pencatatan keuangan.
6. Manajerial, penerapan fungsi POACC.

Empat belas prinsip Fayol yaitu :
1. Pembagian kerja, sepesialisasi meningkatkan efisiensi pelaksanaan kerja.
2. Wewenang, hak untuk member perintah dan dipatuhi.
3. Disiplin, respek dan ketaatan pada peranan dan tujuan organisasi.
4. Kesatuan perintah, setiap karyawan hanya menerima intruksi tentang kegiatan tertentu dari seorang atasan.
5. Kesatuan pengarahan, oprasi-oprasi organisasi yang mempunyai tujuan yang sama harus diarahkan oleh seorang manajer dengan penggunaan satu rencana.
6. Meletakan kepentingan perorangan di bawah kepentingan umum.
7. Balas jasa, kompetensi untuk pekerjaan yang dilaksanakan harus adil bagi karyawan dan pemilik.
8. Sentralisasi, ada keseimbangan yang tepat antara sentralisasi (pengambilan keputusan terpusat) dan desentralisasi (memberikan peranan dalam pembuatan keputusan kepada karyawan).
9. Rantai skalar, garis perintah dan wewenang yang jelas.
10. Order, kebutuhan sumberdaya harus ada pada waktu dan tempat yang tepat.
11. Keadilan, harus ada persamaan perlakuan dalam organisasi.
12. Kestabilan staff, tingkat perputaran karyawan yang tinggi tidak baik untuk perkembangan perusahaan.
13. Inisiatif, adanya kebebasan karyawan untuk menjalankan pekerjaan sesuai rencana.
14. Semangat korps, kesatuan adalah kekuatan, menekankan mendorong komunikasi lisan bila memunginkan.
Mary Porker Follet memberikan pandangan terhadap prinsip-prinsip administratif dalam bukunya “Dynamic Administration : The Collected Papers of Mary Parker Follet” sebagai berikut :
1. Tugas manajer adalah membantu karyawan untuk saling bekerja sama mencapai kepentingan-kepentingan yang terintegrasi.
2. Rasa memiliki terhadap perusahaan menciptakan rasa tanggung jawab kolektif .
3. Permasalahan dalam bisnis melibatkan banyak faktor yang harus di pertimbangkan berkaitan dengan hubungan antar factor.
4. Pemberian pelayanan dan keutungan perusahaan harus di kaitkan dengan kesejahteraan masyarakat.
c) Teori Organisasi Biroktaris
Yang di kemukakan oleh Max Weber menyatakan tentang konsep birokrasi yaitu : sebuah bentuk organisasi yang ideal dengan tujuan yang rasional serta sangat efisien yang di dasarkan atas prinsip-prinsip yang masuk akal, teratur serta wewenang formal.
Beberapa karakteristik konsep birokrasi Weber, yaitu :
1. Pembagian tugas yang jelas, pekerjaan di tentukan secara jelas menjadikan karyawan lebih terampil terhadap pekerjaan itu.
2. Hirarki wewenang yang jelas, posisi wewenang dan tanggung jawab ditentukan dengan jelas, setiap posisi melaporkan pada posisi lain yang lebih tinggi.
3. Aturan dan prosedur formal, petunjuk tertulis yang mengatur setiap prilaku dan keputusan dibuat secara formal.
4. Impersional, aturan dan prosedur diterapkan secara menyeluruh, tidak ada yang mendapat pelakuan khusus.
5. Jenjang karier didasarkan atas kualitas, karyawan dipilih dan di promosikan berdasarkan kemampuan dan kinerja, manajer khusus karyawan yang professional.
  • Teori Pendekatan Sumber Daya Manusia (The Human Resources Approaches) :
          Yang dikenal juga sebagai aliran prilaku, yaitu pendekatan pada studi manajemen tentang kebutuhan manusia, kerja kelompok serta peranan factor-faktor sosial di tempat kerja.
Aliran ini muncul karena ketidak puasan terhadap pendekatan klasik yang tidak sepenuhnya menghasilkan efisiensi produksi dan keharmonisan kerja. Aliran ini berusaha melengkapi dengan pandangan sosiologi dan psikologi.
Tokoh yang terkenal dalam Elton Mayo, memulai percobaan yang di lakukan di pabrik Hawthorne terhadap kondisi kerja sekelompok karyawan, mayo menemukan bahwa hubungan manusia di antara anggota terpilih maupun dengan penelitian (pengawas) lebih penting dalam menentukan produktivitas, perhatian khusus dari manajemen puncak mendorong peningkatan motivasi mereka, daripada perubahan variable seperti upah, jam kerja atau periode istirahat. Fenomena ini dikenal sebagai “Hawthorne Effect”.
Pandangan studi Hawthorne Effect memunculkan bidang studi prilaku organisasi yaitu studi tentang individu dan kelompok dalam organisasi diamtaranya muncul teori kebutuhan manusia oleh Abraham Maslow. Menurut Maslow terdapat lima tingkatan kebutuhan manusia yaitu:





















Gambar : 1.3.2

           Teori tersebut berdasarkan atas dua prinsip, pertama prinsip deficit, kebutuhan yang telah terpenuhi berhenti menjadi motivator dalam prilaku, kedua prinsip berurutan, kelima kebutuhan tersebut berurutan seperti suatu hiraki, suatu kebutuhan disetiap tingkatan akan muncul jika kebutuhan di tingkat yang lebih rendah sudah terpenuhi.
Douglas McGregor memberikan pandangan berdasarkan studi Hawthome dan Maslow, yaitu teori X dan teori Y tentang sifat manusia di tempat kerja.
Teori X berasumsi bahwa karyawan :
a) Tidak suka bekerja
b) Tidak mempunyai ambisi
c) Tidak bertanggung jawab
d) Enggan untuk berubah
e) Lebih suka di pimpin daripada memimpin
Teori Y berasumsi bahwa karyawan :
f) Suka bekerja
g) Mampu mengendalikan diri
h) Menyukai tanggung jawab
i) Penuk imajinasi dan kreasi
j) Mampu mengarahkan diri sendiri
           Manajer yang berasumsi bahwa karyawan bersifat X akan bersikap sangat mengatur dan berorientasi pada pengendalian. Sikap ini mendorong karyawan bersikap pasif, tergantung dan mempunyai rasa enggan.
Manajer yang berasumsi bahwa karyawan bersifat Y akan bersikap mendorong karyawan untuk berpartisipasi, bertanggung jawab dan merasa bebas dan kreatif dalam melakukan pekerjaan mereka.

  •  Teori Kuantitatif/ Riset Oprasi Dan Ilmu Manajemen ( The Quantitative or Management Science Approaches) :
          Yaitu pendekatan pada studi manajemen dengan menggunakan teknik-teknik matematis dalam memecahkan masalah.

          Aliran Kuantitatif (Management Science), merupakan ilmu manajemen yang berdasarkan teknik-teknik matematis untuk pemecahan masalah dan pembuatan keputusan, biasanya di gunakan dalam pembuatan keputusan, biasanya digunakan dalam kegiatan seperti penganggaran modal, manajemen aliran kas, scheduling produksi, pengembangan strategi produk, perencanaan program penge
mbangan sumber daya manusia dan sebagainya
Langkah-langkah management science yaitu :
a) Perumusan masalah.
b) Penyusunan suatu model matematis.
c) Mendapatkan penyelesaian dari model.
d) Pengujian model dan hasil yang di dapatkan dari model.
e) Penetapan pengawasan hasil-hasil.
f) Pellaksanaan.
           Pendekatan manajemen kuantitatifmencakup karakteristik sebagai berikut :
a) Konsentrasi pada pengambilan keputusan dan dampa akhir bagi tindakan manajemen.
b) Penggunaan criteria ekonomi dalam keputusan (biaya, pendapatan, deviden)
c) Penggunaan model matematis dengan hokum dan rumus yang cangg
ih.
d) Penggunaan komputer untuk mempercepat proses.

  • Teori Pendekatan Modern ( Modern Approaches) :
          Yaitu pendekatan pada studi manajemen dengan panda
ngan sistem dan pemikiran kontingensi berdasarkan komitmen terhadap mutu dan kinerja yang tinggi.

          Berkembangnya pendekatan dalam ilmu manajemen menunjukkan bahwa tidak ada satu teori yang dapat di terapkan secara universal dalam segala situasi. Perkemb
angan teori manajemen terus mengalami penyesuaian seiring tuntutan lingkungan organisasi yang berubah secara dinamis. Sehingga manajer dan organisasi harus menanggapi perbedaan-perbedaan tersebut melalui strategi manajerial member kesempatan terhadap perkembangan sejumlah bakat dan kemampuan ang
gota-amgota organisasi. Landasan utama pendekatan ini adalah manajemen sebagai system dan manajemen dengan pendekatan kontingensi.

a) Pendekatan Sistem (System Approach).
Pendekatan sistem dalam manajemen artinya memandang organisasi sebagai suatu satu kesatuan yang menyeluruh, yang terdiri dari bagian-bagian yang saling berhubungan dan sebagai bagian dari lingkungan eksternal yang lebih luas. Pada dasarnya sistem merupakan sub sistem-sub sistem yang saling berhubungan dan saling bergantung.
Manajemen memandang sistem sebagai sistem tertutup dan sistem terbuka. Manajemen sistem tertutup memasatikan pada hubungan-hubungan dan konsistensi internal (k
esatuan perintah, tentang kendali, wewenang dan delegasi) sedangkan sistem terbuka mempertimbangkan pengaruh lingkungan, tetapi secara fungsional tidak menghubungkannya dengan konsep-konsep dan teknik-teknik manjemen yang mengarahkan ke pencapaian tujuan.

b) Pendekatan Kontingensi (Contingency Approach).
Pendekatan ini memandang bahwa tugas manajer adalah mengidentifikasi teknik mana pada situasi tertentu, di bawah keadaan tertentu dan pada waktu tertentu akan membantu pencapaian tujuan manajemen.
Perbedaan kondisi dan situasi membutuhkan aplikasi dan teknik manajemen yang berbeda, karena tidak ada teknik, prinsip dan konsep universal yang dapat di terapkan dala
m seluruh kondisi. Pendekatan ini memasukkan variable-variabel lingkungan dalam analisanya, karena perbedaan kondisi lingkungan akan memerlukan aplikasi konsep dan teknik manjemen yang berbeda pula.

1.4 Manajemen Dan Lingkungan Eksternal
  •  Definisi Lingkungan :
          Dalam pembahasan manajemen tidak lepas pada masalah lingkungan yang dihadapi oleh seorang manajer. Perbedaan dan kondisi lingkungan akan berpengaruh terhadap konsep dan teknik serta keputusan yang akan diambil. Sebagai seorang manajer tidak harus hanya memperhatikan lingkungan usahanya atau intern saja, tapi juga harus bisa mengantisipasi lingkungan di luar perusahaan atau ekstern. Untuk mencapai tujuan organisasi tidak lepas dari lingkungan ekstern yang terj
adi, apalagi bagi organisasi atau perusahaan yang menghasilkan barang-barang yang dibutuhkan oleh konsumen. Oleh karena itu manajer harus memperhatikan dan mempertimbangkan unsur-unsur serta kekuatan-kekuatan lingkungan ekstern dalam setiap kegiatan manajemen. Bagaimana reaksi seorang manajer bila ada perubahan lingkungan ekstern?
  •  Faktor Lingkungan Eksternal :
           Lingkungan ekstern atau eksternal terdiri atas unsur-unsur yang berada di luar organisasi, dimana unsur-unsur ini tidak dapat dikendalikan dan diketahui terlebih dahulu oleh manajer, disamping itu juga akan mempengaruhi manajer di dalam pengambilan keputusan yang akan dibuat. Unsur-unsur lingkungan eksternal organisasi contohnya yaitu perubahan perekonomian, peraturan pemerintah, perilaku konsumen atau masyarakat, perkembangan teknologi, politik dan lain sebagainy
a.
Lingkungan eksternal dibagi menjadi dua yaitu :
lingkungan mikro dan lingkungan makro.
1. Lingkungan eksternal mikro yaitu lingkungan yang mempunyai pengaruh langsung terhadap kegiatan manajemen.
2. Lingkungan eksternal makro yaitu lingkungan yang mempunyai pengaruh tidak langsung.
           Organisasi Dan Lingkungan setiap manajer dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan eksternal dalam pengambilan keputusan. Keputusan yang diambil tergantung pada bentuk dan tujuan yang akan dicapai oleh organisasi, disamping itu keputusan juga dipengaruhi oleh dimana seorang manajer duduk dalam posisinya.
Manajer dan organisasi memberikan tanggapan terhadap lingkungan eksternal, baik melalui pengaruh lingkungan yang bersifat mikro, prediksi maupun lingkungan yang bersifat makro, disamping itu juga bisa melalui perencanaan, perancangan organisasi dan lingkungan itu sendiri.

  •  Tanggung Jawab Soal Manajer :
           Perubahan konsep manajerial dipengaruhi oleh faktor intern dan ekstern. Seorang manajer mempunyai tanggung jawab social atas keputusan-keputusan yang diambil, mengapa dikatakan demikian karena mempengaruhi dalam pencapaian tujuan organisasi baik dalam jangka panjang maupun dalam jangka pendek, disamping itu juga menyangkut hajat hidup orang banyak yang kesemuanya menggantungkan dirinya kepada organisasi tersebut (ini kalau dilihat dari segi dimana seseorang bekerja). Atas dasar ini maka seorang manajer dituntut untuk dapat mengimplementasikan etika berusaha (the ethics of manager). Ada lima faktor yang mempengaruhi keputusan manajer dalam etika berusaha ini, yaitu hukum; peraturan-peraturan pemerintah termasuk di dalamnya undang-undang yang dikeluarkan oleh pemerint
ah; kode etik industri dan perusahaan tekanan-tekanan sosial; tegangan antar standar perorangan dan kebutuhan organisasi.


Referensi :

1. Buku Kewirausahaan, Drs. Mardiyatmo (Yudhis Tira)
2. Ahmad Elqorni_Blog WordPress.com
3. Doc. Pengantar Manajemen Tafiprios SE.MM
4. Anakciremai Network. Powered by Blogger

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar